Oleh: ahmad rusdi | Juli 25, 2009

Hakekat Cinta

Rasa cinta menjadi satu identitas yang selalu melekat dalam kehidupan para makhlukNya. Tanpa diundang, cinta hadir dan menyapa siapa saja. Membenamkan segala syakwasangka menjadi satu alunan dendang irama. Saking dahsyatnya cinta, banyak orang terlena dan salah mendefinisikan arti cinta. Lalu bagaimana sikap kita mengenai cinta?

Sebagai seorang Muslim, ketika kita mencintai saudara seiman, cinta tersebut tidaklah ternoda oleh kecendrungan-kecenderungan duniawi atau hasrat yang tersembunyi. Mutlak merupakan cinta persaudaraan sejati yang kemurniannya memancar dari cahaya petunjuk Islam. Hal itu dapat membangun ikatan-ikatan yang menghubungkan seorang muslim dengan saudaranya, tanpa memandang ras, warna kulit atau bahasa. Hanya dipersatukan oleh keimanan kepada Allah semata.

Persaudaraan karena iman merupakan persaudaraan terkuat antara hati dan pikiran. Tidak mengherankan bahwa persaudaraan unik ini menghasilkan buah-buah cinta yang sangat lembut, murni dan abadi. Islam menyebutnya “cinta hanya kepada Allah”, di mana muslim menemukan manisnya iman. Ada sebuah hadits yang berbunyi:

Tiga hal yang siapa mampu mencapainya, akan merasakan manisnya iman: Jika Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari yang lain; jika ia mencintai seseorang hanya karena Allah; dan jika ia membenci kekafiran, setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci jatuh dalam api neraka.” (Muttafaqun alaih)

Cinta hanya karena Allah dan bukan karena sesuatu yang lain dalam kehidupan yang penuh dengan ketamakan, hasrat dan kepentingan adalah sangat sulit, dan tak seorangpun dapat mencapainya, kecuali orang yang memiliki hati suci, karena baginya dunia bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan keridhaan Allah swt. Prinsip yang demikian akan membawa berkah berupa anugerah yang tak terhingga dari Allah swt.

Nabi saw. Sendiri, melihat dan memahami begitu luar biasanya potensi dari cinta. Kekuatannya dapat mempersatukan umat manusia menjadi satu kumpulan masyarakat. Bahkan, Beliau tidak pernah melewatkan waktu tanpa menganjurkan cinta.

Anas r.a. berkata, bahwa seseorang bersama Nabi saw. Ketika orang lain lewat. Orang pertama berkata. “Ya Rasulullah, sungguh aku mencintai orang ini”. Nabi saw. bertanya kepadanya, “Sudahkan engkau memberitahunya?” Ia berkata, “belum.”. Nabi bersabda, “katakan kepadanya.” Ia mengejar dan mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya aku mencintaimu hanya karena Allah.” Dan orang tersebut menjawab, “semoga Allah mencintai orang yang mencintaiku hanya karena-Nya.”

Dalam sebuah riwayat lain oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra., Nabi saw bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, engkau tidak akan masuk surga, sehingga engkau beriman, dan engkau tidak akan beriman, sehingga engkau saling mencintai. Bolehkah kukatakan kepadamu, yang jika engkau melakukannya, engkau akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian”. (HR. Muslim)

Dalam pandangan Rasulullah saw., tidak ada sesuatu pun yang dapat mengurangi kebencian, kecemburuan dan permusuhan dari hati manusia, kecuali persaudaraan sejati, yang didasarkan pada cinta, persahabatan dan saling memberikan nasehat. Sehingga beliau mengajak muslim untuk menebarkan salam di antara saudara-saudara mereka, sehingga akan membuka hati mereka untuk saling mencintai dan bertemu dalam kondisi yang baik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: