Oleh: ahmad rusdi | Juli 25, 2009

Dosa Meninggalkan Shalat

Orang yang meninggalkan shalat atau menyia-nyiakannya tergolong orang yang berdosa besar karena shalat adalah tiang agama. Berkenaan dengan ini Allah berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Q.S. Maryam: 39)

Menurut Ibnu Abbas, menyia-nyiakan shalat tidaklah hanya dalam pengertian meninggalkannya saja, tetapi juga mengulur waktunya (tidak tepat waktu).
Oleh Said bin Musayyab dijelaskan lebih rinci lagi, yaitu orang belum shalat dzuhur hingga datang waktu ashar, belum lagi shalat ashar hingga datang waktu maghrib, belum shalat maghrib hingga datang waktu Isya, belum shalat Isya hingga datang waktu fajar (subuh), dan belum shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang meninggal dalam keadaan seperti demikian dan belum juga bertaubat kepada Allah, orang tersebut termasuk orang yang mendurhaka dan ditempatkan dilapisan terbawah (kerak neraka).
Pada ayat lain Allah Berfirman:
“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai dari shalatnya.” (Q.S. Al-Ma’un: 4-5)

Melalaikan, termasuk ke dalamnya meremehkan (menganggap enteng).
Menurut riwayat, bahwa Said bin Abi Waqqash pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai pengertian ayat tersebut di atas, dan Beliau menjawab: “menta’khirkan (menunda) shalat dari waktunya.”
Orang inilah yang akan ditempatkan di kerak neraka, kecuali dia taubat kepada Allah dan menyesali perbuatan yang lalu itu.
Kemudian pada ayat lain Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Q.S. Al-Munafiqun: 9)

Mencari harta juga diperintah, namun jangan sampai hanyut terbawa ke muara kecelakaan, maksudnya meninggalkan ibadah (termasuk shalat) karena terlalu tergoda oleh harta, seperti sibuk di toko, di kantor dan tempat-tempat lainnya. Demikian juga masalah anak karena sibuk mengurusnya, atau karena alasan tidak bersih kena kencing anak, akibatnya ibadah tertunda atau tidak mengerjakannya sama sekali.
Orang yang meninggalkan shalat cukup besar adzabnya di akhirat kelak sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya:
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” Dan kami tidak pula memberi makan orang miskin.” (Q.S. Al-Muddatsir: 42-44)

Shalat adalah sebagai pembeda antara seorang hamba Allah dengan kufur, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.:
“Perbedaan antara seorang hamba (Allah) dengan kufur, adalah meninggalkan shalat.” (H.R. Ahmad, Muslim, Abu Daud, An-Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Sebagian Ulama mengatakan, bahwa orang yang meninggalkan shalat karena sibuk mengurus harta, akan dikumpulkan kelak di akhirat dengan Qaarun; orang yang sibuk dengan kekuasaannya, dikumpulkan dengan Fir’aun; orang yang sibuk dengan departemennya (menterti-menteri) bersama Hammaan; dan orang yang sibuk dengan usaha dagangnya dikumpulkan dengan Ubay bin Khalaf, yaitu pengusaha kafir Mekah.
Kepedihan yang sangat mendalam yang akan dirasakan oleh orang yang tidak mengerjakan shalat ialah, Allah berlepas diri dan tidak peduli kepada mereka. Hal ini berarti hidup mereka terlantar dan tidak ada pembelaan dan perlindungan di akhirat kelak. Sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, maka jaminan Allah Azza wa Jalla tidak ada (kepada mereka).” (H. R. Ahmad dan Tabrani).

Hadits mengenai orang yang meninggalkan shalat, sebenarnya cukup banyak, namun dari beberapa ayat dan Hadits tersebut di atas pun cukup memadai sebagai bahan renungan, bahwa betapa pentingnya kedudukan shalat itu dalam agama Islam. Shalat adalah tiang agama, dan tanpa tiang, maka seluruh amal ibadatnya yang lainnya akan sia-sia saja karena tidak akan diterima oleh Allah SWT.


Responses

  1. Assalamu’alaikum.Tulisan yg bermanfaat.Alhamdulillah.Maaf, Namun ada kesalahan pengetikan untuk surat maryam di paragraf pertama seharusnya Qs.Surat Maryam Ayat 59, BUKAN 39.🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: