Oleh: ahmad rusdi | Juli 25, 2009

Dosa Durhaka Kepada Orangtua

Seorang anak yang tidak mau membalas budi baik kedua orang tuanya adalah anak yang durhaka. Sebab, anak tersebut tidak/kurang menyadari, bahwa kehadirannya di atas dunia ini adalah karena melalui perantaraan kedua orang tuanya itu.

Jasa orangtua terhadap anaknya tidak mungkin akan terbalas, walaupun segunung emas yang dipersembahkan kepada orangtuanya itu. Sebab, nilai nilai kasih sayang dan keikhlasan tidak dapat dinilai dengan harta benda.

Dalam soal bakti, pertama harus kita tujukan kepada Allah dalam segala macam bentuk pengabdian dengan rasa ikhlas dan merendah diri. Kedua, adalah orang tua yang tidak kecil jasanya membesarkan, memelihara, mendidik dan bahkan sampai menjodohkan serta menyediakan segala keperluan anaknya, walaupun sudah dewasa.
Karena begitu besar jasa orang tua kepada anaknya, maka Allah memperingatkan dan memerintah kepada setiap anak supaya berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagaimana firmanNya;

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al Isra’ : 23-24)

Pada ayat lain Allah berfirman:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)

Dari ketiga ayat tersebut di atas dapat kita pahami, bagaimana seharusnya kedudukan ibu bapak dalam pandangan anaknya. Seharusnya dia beri kedudukan istimewa dalam lubuk hatinya, dia kasihi dan sayangi dan dia ayomi (lindungi) terutama sesudah berusia lanjut.
Dalam ayat tersebut juga dinyatakan sekiranya ada di antara hamba Allah yang menyatakan ucapan syukur (terima kasih), maka Allahlah yang pantas menerimanya, kemudian kedua orangtua, bukan kepada orang lain lebih dahulu yang mungkin dianggapnya berjasa dalam hubungannya dengan masalah kedudukan, bantuan ekonomi dan sebagainya.
Tidak sedikit kita lihat, orang yang mengorbankan segala-galanya karena alasan balas jasa, berhutang budi kepada seseorang. Jasa yang diperoleh sesaat saja, bersedia dibalas dengan pengorbanan harta, malahan jiwa. Namun jasa orangtua yang diperoleh sepanjang hidup, biasanya terlalaikan, bahkan ada sebagian orang yang mengabaikannya sama sekali.
Menurut riwat ibnu Abbas, bahwa ada tiga ayat Al Qur’an yang diturunkan, di dalamnya mengandung dua perintah yang selalu bergandengan, yaitu firman Allah:

1. “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul
2. Dirikanlah olehmu shalat dan tunaikanlah olehmu zakat

Orang-orang yang sudah melaksanakan shalat tetapi tidak menunaikan zakat, ibadahnya itu tidak diterima. Hubungan dengan Allah (vertikal) wajib dipelihara dan hubungan dengan manusia (horizontal) wajib juga dijalankan.

3. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orangtuamu.”

Orang-orang yang bersyukur kepada Allah saja, tetapi tidak bersyukur kepada kedua orangtua, hal itu pun tidak diterima kesyukurannnya itu, karena meremehkan orangtuanya itu.
Oleh sebab itu Rasulullah bersabda:

“Allah Ridha, kalau kedua orangtua ridha dan Allah marah, kalau kedua orangtua marah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

Restu dan do’a orangtua sangat perlu dalam mengiringi hidup seseorang, agar mendapat ridha Allah dan terhindar dari murkaNya.
Biasanya perjalanan hidup yang mendapat ridha Allah jarang mendapatkan hambatan, dan lebih banyak mendapat kemudahan dan kelapangan.
Menurut riwayat Ibnu Umar, pada suatu ketika seorang laki-laki menghadap Rasulullah, menyatakan keinginannya ikut bersama Rasulullah untuk berperang (jihad). Lalu Rasulullah bertanya: “Apakah anda masih punya orangtua?” “Ya,” Jawab laki-laki itu. Lalu sabda Rasul: “Mengabdilah kepada kedua orangtuamu itu.”

Di sini kita lihat, bahwa pengabdian terhadap orang tua mempunyai nilai yang sama dengan jihad (perang), bahkan harus mendahulukan orangtua.
Orang yang durhaka kepada kedua orangtua, tidak hanya di akhirat saja dia mendapat siksa tetapi sejak di dunia sudah merasakan azabnya dan tidak jarang kita lihat, orang yang sudah hidup melarat, karena mendapat sumpah serapah dari orangtuanya.

Menurut riwayat lain, pernah seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah, dan bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah di antara manusia ini yang lebih pantas (baik) saya jadikan sahabat (teman)? “Ibumu,” jawab Nabi. “Kemudian siapa lagi,” Kata laki-laki itu. “Ibumu,” jawab Rasulullah, “Kemudian siapa lagi,” Kata laki-laki itu. “Ibumu,” Jawab Rasulullah. “Kemudian siapa lagi,” Kata laki-laki itu. “Bapakmu dan seterusnya kerabat yang terdekat, (secara berurutan),” jawab Rasulullah.

Berbuat baik kepada ibu diulang sampai tiga kali oleh Rasulullah, sedang kepada bapak hanya satu kali. Hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang ibu biasanya lebih besar daripada bapak. Demikian juga pengorbanan ibu lebih berat kalau dibandingkan dengan pengorbanan bapak.

About these ads

Responses

  1. bermanpaat sekali boss.. matur thank you

    Salam

  2. tanks, perbanyak lagi artikelnya


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: